MELEBARKAN SAYAP LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING MELALUI FORUM GROUP DISCUSSION DALAM TRADISI AKADEMIK PESANTREN

0
42
Yuliyatun Tajuddin

Selama ini, kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang dikenal oleh sebagian besar masyarakat hanya di lingkungan pendidikan formal atau sekolah, terutama di sekolah tingkat menengah pertama dan menengah atas. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling (BK) di sekolah sudah menjadi bagian dari program sistem pendidikan dan berbagai upaya pengembangan serta inovasi dari pola layanan langsung individual dan kelompok hingga pola layanan virtual yang menyesuaikan dengan kondisi perkembangan digitalisasi seperti saat ini. Terlebih dalam masa Pandemi Covid-19, berbagai upaya inovasi pelayanan BK terus ditingkatkan agar siswa tetap mendapatkan layanan BK yang tujuannya untuk memantau dan mengontrol perkembangan belajar dan sikap kepribadiannya selama menjalani pola pembelajaran Daring.

Lalu, bagaimana dengan kondisi komunitas remaja lainnya yang juga sedang menjalani masa pembelajaran di lingkungan tradisi pesantren ? Apakah mereka juga tersentuh dengan pola layanan bimbingan konseling sebagaimana yang ada di lembaga pendidikan formal (sekolah) pada umumnya ? Bukankah mereka, para santri juga individu-invidu yang sedang dalam masa tumbuh kembang, masa pencarian identitas diri, masa pembentukan konsep diri yang kelak akan menentukan bagaimana karakter kepribadiannya akan terbentuk saat usia dewasa. Tentunya mereka juga mengalami berbagai problem dan membutuhkan pendampingan, bimbingan, serta layanan konseling di saat mereka benar-benar menghadapi permasalahan yang membutuhkan pemecahan bersama dengan seorang yang ahli.

Beberapa pertanyaan di atas sekilas bisa dijawab dengan ungkapan bahwa di pesantren sudah ada sosok Kyai atau pengasuh pesantren, atau para pendamping Kyai seperti ustadz/ustadzah yang selama 24 jam bisa memantau dan mendampingi santri. Hal tersebut tentunya permasalahan santri dapat tertangani secara langsung dan bahkan memiliki nilai plus karena pendampingan santri dilakukan dengan pendekatan keagamaan sehingga memunculkan respon atau perilaku ketundukan serta rasa hormat yang tinggi sehingga memudahkan bagi pengasuh atau pendamping untuk menangani dan mengubah perilaku santri menjadi lebih baik.

Namun demikian, santri juga tetaplah pribadi yang masih masa transisi, yang dimanapun keberadaannya tidak terlepas dari problem-problem psikis yang belum tentu selamanya dapat melewati masa-masa sulit di saat hadir permasalahan yang santri tersebut tidak dapat terbuka dengan pendampingnya di pesantren. Di sisi lain, tidak dipungkiri para pendamping atau ustadz/ustadzah juga memiliki keterbatasan untuk bisa membaca fenomena santri yang beragam karakter kepribadian dan pola tingkah laku yang berbeda-beda, atau suatu kenyataan dibalik yang tampak pada diri santri yang sebenarnya memiliki permasalahan namun tidak terungkapkan. Sementara Pengasuh atau Kyai, yang memiliki kemampuan analisis dan membaca fenomena santri, juga tidak selalu bisa mendampingi setiap individu santri secara keseluruhan dalam jumlah santri yang banyak, yang satu per satu langsung ditangani Kyai, karena beliau juga memiliki tugas dakwah ke umat yang lebih luas cakupan masyarakatnya.

Di sinilah perlu adanya sebuah pemikiran baru, sebuah pengembangan atau inovasi jangkauan layanan konseling yang tidak hanya dapat diakses oleh komunitas remaja di lingkungan sekolah formal saja, tetapi juga komunitas remaja di lingkungan pesantren. Yang harapannya dapat memberikan nuansa perluasan dan pencerahan bagi santri melalui kegiatan yang akan menginspirasi mereka untuk lebih terbuka memahami fenomena diri dan lingkungan melalui variasi kegiatan bernuansa bimbingan dan konseling.

Dalam tulisan ini kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang penulis tawarkan adalah model group discussion yang mencakup banyak santri dalam sebuah majelis pertemuan atau semacam Focus Group discussion (FGD) ala Pesantren. Jika selama ini kegiatan sejenis FGD marak diselenggarakan di lembaga-lembaga formal khususnya di lingkungan perguruan tinggi, maka akan lebih manarik dan memberikan nuansa baru yang mencerahkan ketika suasana FGD diselenggarakan di pesantren yang pesertanya adalah santri.

Kegiatan FGD pernah beberapa pertemuan penulis selenggarakan di sebuah pesantren dengan menyajikan tema yang merupakan hasil penelitian. Kegiatan ini memang awalnya bukan merupakan kegiatan konseling yang bermaksud membantu santri mengatasi suatu permasalahan. Tetapi lebih bersifat informatif untuk kemudian memberikan kesempatan merespon dan memberikan tanggapannya, atau mengembangkan tema yang peneliti sajikan dalam FGD dalam suatu forum diskusi. Dari proses diskusi ini menjadi media penulis untuk menggali dan mengembangkan potensi kemampuan santri dalam kegiatan berpikir kritis dan solutif menanggapi suatu permasalahan. Hal ini sebagai media membuka secara luas pemikiran santri sekaligus memadukan nilai-nilai relijius Islam yang sudah santri adopsi melalui serangkaian kegiatan mengajinya dengan Kyai dan para pendamping di pesantren tersebut.
Kegiatan FGD juga dihadiri Kyai yang sekaligus menjadi narasumber untuk mengulas hasil penelitian penulis dan memberikan tanggapan beliau dikaitkan dengan nilai-nilai relijius Islam agar memberikan pencerahan santri memahami nilai-nilai relijius Islam serta penerapannya dalam merespon permasalahan sesuai tema yang peneliti sajikan dalam FGD tersebut. Dan, hasilnya menunjukkan adanya respon dan antusias santri dalam mengikuti kegiatan FGD yang penulis selenggarakan. Dari kegiatan tersebut penulis membaca adanya sebuah pengalaman belajar baru bagi santri melalui metode diskusi interaktif membahas sebuah kasus permasalahan dan melatih berpikir santri dalam memahami permasalahan dan bagaimana proses penyelesaiannya dikembangkan dalam bentuk pemecahan bersama untuk menemukan solusinya.

Hal ini tentu berbeda dengan pengalaman belajar selama di pesantren yang cenderung santri hanya mendengarkan dan mengikuti pengajian yang lebih bersifat teoritis mengenai suatu materi kajian kitab-kitab klasik yang menjadi salah satu ciri khas pesantren. Sedangkan dalam FGD dapat dilakukan secara variatif dan tematik mengangkat suatu kasus permasalahan yang umumnya juga dialami para santri berbasis hasil pengamatan dan pembacaan fenomena keseharian para santri di pesantren oleh Kyai atau para pendamping santri. Dengan demikian, bagi santri yang mengalami langsung permasalahan tersebut tidak merasa menjadi subyek yang menjadi obyek pembahasan karena permasalahannya dijadikan kajian dalam FGD. Pembahasan permasalahan dikemas sedemikian rupa menjadi satu topik kajian bersama untuk dipecahkan bersama melalui proses diskusi, menjaring ide dan pemikiran sesama santri ketika mereka dihadapkan pada suatu permasalahan. FGD dipandu oleh konselor, guru BK, atau salah satu pendamping santri dengan menghadirkan langsung Kyai untuk mengisi ruang pembahasan dengan nilai-nilai pesantren yang bersumber dari nilai relijius Islam (sumber al-Quran, hadits, dan hasil pemikiran para Ulama).

Pola FGD di pesantren ini akan terselenggara secara kontinyu jika menjadi sebuah perhatian serius dari para penggerak bimbingan dan konseling atau para guru BK, akademisi, dan peneliti bidang bimbingan dan konseling untuk melebarkan sayap sosialisasi program layanan BK untuk menjagkau komunitas masyarakat yangg lebih luas, yang tidak hanya terfokus di lingkungan sekolah, khususnya untuk konteks sasaran layanan bimbingan dan konseling bagi konseli usia anak-anak dan remaja. Jadi, ada pola kerjasama yang baru yang bisa dikembangkan oleh pihak-pihak yang menjadi agen atau subyek utama dalam perannya memberikan pendidikan dan pendampingan anak dan remaja untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang komprehensif baik segi intelektual, sosial, emosional, moral, dan spiritual relijius.

Penulis: Yuliyatun Tajuddin
(Dosen IAIN Kudus, Mahasiswi Pascasarjana S3 UNNES Semarang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here