Biografi Gus Mus (K.H. A. Mustofa Bisri) Rembang

0
328
biografi gus mus

Biogra Gus Mus – KH. A. Mustofa Bisri, atau yang akrab Gus Mus, merupakan sosok kiai yang nyentrik dan unik. Selain sebagai seorang kiai, beliau juga seorang seniman dan budayawan.

Sebagai seorang ulama, ia selalu berusaha memberikan solusi terhadap berbagai problem keberagamaan, yang erat kaitannya dengan hukum-hukum Islam yang dipahami dan ditangkap oleh masyarakat. Beliau merupakan sosok kiai kharismatik yang membumi. Santri-santri Gus Mus tersebar luas di mana-mana, dari kelas pedesaan, petani miskin, kaum nelayan hingga artis dan seniman.

Meskipun Gus Mus seorang kiai besar, beliau menempatkan semua kenalannya yang beraneka ragam sebagai teman yang senantiasa dihormati. Pengajaran agama yang disampaikan kepada umat setiap kali ceramah juga terasa sangat sederhana, mantap, berisi dan tidak muter-muter sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh orang awam yang datang dari kampong sekalipun.

Baca Juga : Profil dan Biografi Gus Baha Rembang

Kelahiran

KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang biasa disapa Gus Mus, lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 10 Agustus 1944. Alumnus dan penerima beasiswa dari Universitas Al Azhar Kairo (Mesir, 1964-1970) untuk studi Islam dan bahasa arab ini, beruntung dibesarkan dalam keluarga yang patriotis, intelek, progresif sekaligus penuh kasih sayang. Kakek beliau (H. Zaenal Mustofa) adalah seorang saudagar ternama yang dikenal sangat menyayangi ulama.

Dibesarkan di lingkungan para kiai dan keluarga yang saling mengasihi, yatim sejak masih kecil tidak membuat pendidikan anak-anak H. Zaenal Mustofa terlantar dalam pendidikan mereka. Buah perpaduan keluarga H. Zaenal Mustofa dengan keluarga ulama bahkan terpatri dengan berdirinya ―Taman Pelajar Islam (Roudlatuth Tholibin), pondok pesantren yang kini diasuh Gus Mus bersaudara. Pondok ini didirikan tahun 1955 oleh ayah Gus Mus, KH. Bisri Mustofa. KH. Bisri Mustofa sendiri adalah menantu KH. Cholil Harun, ikon ilmu keagamaan (Islam) di wilayah pantura bagian timur pada saat itu.

Pernikahan

Pada tahun 1971 Gus Mus muda menikah dengan Hj. Siti Fatmah. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai 7 anak (6 putri dan 1 putra bernama M. Bisri Mustofa), dan 13 cucu. Yang semakin langka dalam keluarga masa kini, namun nyata berlangsung dalam keluarga Gus Mus adalah hubungan saling menghormati, saling menyayangi diantara sesama anggota keluarga.

Sebagai ilustrasi, kiprah sang ayah di dunia politik seperti menjadi Anggota Majelis Konstituante, 1955; Anggota MPRS, 1959; Anggota MPR, 1971, tidak pelak membuat Gus Mus tertarik kepada dunia politik. Jika akhirnya Gus Mus terjun juga ke dunia politik (1982-1992 anggota DPRD Jawa Tengah; 1992-1997 Anggota MPR RI) itu lebih karena pertimbangan tanggung jawab yang tak bisa dielakkannya, mengingat kapasitas-kapasitasnya. Dengan mengambil sikap-sikap politik yang sulit, Gus Mus sangat memperhitungkan restu keluarganya, terutama ibundanya Hj. Ma’rufah, selain istri dan anak-anaknya.

Pendidikan

Ayah Gus Mus sangat memperhatikan pendidikan yang dienyam anak-anaknya, lebih dari sekedar pendidikan formal. Meskipun otoriter dalam prinsip, akan tetapi ayahnya sangat mendukung anaknya untuk berkembang sesuai dengan minatnya.

Disamping belajar di pesantren milik ayahnya sendiri, beliau juga nyantri di berbagai pesantren, seperti Pesantren Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Marzuki dan KH Mahrus Ali; Al Munawwar Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Ma‘shum dan KH Abdul Qadir; kemudian meniti jalur akademik di Universitas Al-Azhar Cairo.

Keorganisasian

Sejak usia muda Gus Mus adalah probadi yang terlatih dalam disiplin berorganisasi. Saat kuliah di Al Azhar Kairo, bersama KH Syukri Zarkasi (sekarang Pengasuh Ponpes Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur), Gus Mus menjadi pengurus HIPPI (Himpunan Pemuda dan Pelajar Indonesia) Divisi Olah Raga. Di HIPPI pula Gus Mus pernah mengelola majalah organisasi (HIPPI) berdua saja dengan KH. Abdurrahaman Wahid (Gus Dur).

Tidak berbeda dengan para kiai lain yang memberikan waktu dan perhatiannya untuk NU (Nahdlatul Ulama), sepulang dari pendidikannya di Kairo Gus Mus mulai berkiprah di PCNU Rembang (awal 1970-an), Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah (1977), Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, hingga Rais Syuriyah PBNU (1994, 1999). Tetapi mulai tahun 2004, Gus Mus menolak duduk dalam jajaran kepengurusan struktural NU. Pada pemilihan Ketua Umum PBNU 2004-2009, Gus Mus menolak dicalonkan sebagai salah seorang kandidat.

Pengabdian dan Karya-Karya

Gus Mus adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang. Pekerjaannya sebagai penulis dan staf pengajar di Pesantren Taman Pelajar Rembang; Penasihat di Majalah Cahaya Sufi dan Al-Mihrab Semarang. Ikut mengasuh situs Pesantren Virtual dan Gusmus.Net.

Beliau juga seorang budayawan yang aktif menulis buku, kolom, esai, cerpen, dan puisi di berbagai media masa. Beberapa media yang menerbitkan karya-karyanya diantaranya Tempo; Forum; Umat; Amanah; Ulumul Qur’an; Panji Masyrakat; Horison; Kompas; Jawa Pos; Media Indonesia; Republika; Suara Merdeka; Kedaulatan Rakyat; Detak; Wawasan; Bali Pos; Dumas; Bernas; Pelita; Pesantren; Warta Nu; Aula. Selain menulis, beliau juga sering berceramah dan membaca puisi.

Beberapak karya buku yang telah diterbitkan seperti Kitab Pendidikan Islam, Pokok-Pokok Agama, Dasar-Dasar Islam, Ensiklopedi Ijmak, Kurnia Kalam Semesta, dan karya buku lainnya.

Karena dedikasinya dibidang sastra, Gus Mus banyak menerima undangan juga dari berbagai negara. Bersama Sutardji Colzoum bachri, Taufiq Ismail, Abdul hadi WM, Leon Agusta, Gus Mus menghadiri perhelatan puisi di Baghdad (Iraq, 1989). Masyarakat dan mahasiswa Indonesia menunggu dan menyambutnya di Mesir, Jerman, Belanda, Perancis, jepang, Spanyol, Kuwait, Saudi Arabia (2000). Fakultas Sastra Universitas Hamburg, mengundang Gus Mus untuk sebuah seminar dan pembacaan puisi (2000).

Sekian biografi dari Gus Mus (K.H. A. Mustofa Bisri) dari Rembang. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here